02202017Mon
Last updateMon, 31 Aug 2015 7am

Bangga Menjadi Indonesia

Cinta-Indonesia

Semangat kebangsaan adalah perekat 250 juta jiwa lebih masyarakat Indonesia yang terpisah dalam 17.500 pulau dengan beragam latar belakang suku bangsa dan budaya. Nasionalisme menjadi jembatan untuk mencapai tujuan bersama sebagai sebuah bangsa dan negara.

Tujuh dekade sudah masyarakat Indonesia menjadi sebuah bangsa, membangun sebuah negara. Para pendahulu merajut negeri ini dengan segenap kekuatan yang ada, menumpahkan pikiran, keringat, dan darah demi keberadaan Indonesia di mata dunia. Eksistensi Indonesia dibangun melalui perjalanan sejarah jatuh bangun yang panjang.

 

Makna nasionalisme bagi setiap generasi bisa jadi lentur mengikuti perkembangan zaman. Nasionalime pada masa pergerakan kemerdekaan mewujud dalam kesediaan setiap anak negeri untuk berkorban nyawa demi kemerdekaan bangsa. Bagaimana dengan arti nasionalisme bagi rakyat Indonesia hari ini?

Publik jajak pendapat Kompas menyematkan nasionalisme dalam identitas sebagai warga negara Indonesia. Hal itu menunjukkan kebanggaan dan cinta terhadap Tanah Air. Cinta merupakan kombinasi sikap dan emosi positif yang kerap diagungkan insan manusia.

Rasa cinta kepada negeri dapat hadir dalam diri masing-masing pribadi, dengan memeluk erat identitas sebagai orang Indonesia. Nasionalisme juga terbentuk dalam hubungan antaranggota masyarakat yang solid. Semangat kebangsaan juga mewujud dalam relasi dengan bangsa lain. Dinamika ketiga hal itulah yang menyusun rupa nasionalisme Indonesia.

Identitas sebagai orang Indonesia sudah terlukis dalam gambaran diri publik. Empat dari lima responden pun mengaku lebih nyaman menyebut diri sebagai orang Indonesia, dibandingkan sebagai umat agama atau anggota suku tertentu. Namun, melekatkan sebuah identitas pada diri bukan hal mudah tanpa adanya kebanggaan atas identitas tersebut.

Sebagian besar kebanggaan tersebut ditarik dari narasi romantis bahwa Indonesia adalah negara yang begitu kaya akan hasil alam dan keragaman budaya. Masih terngiang pula dalam benak publik bahwa bangsa Indonesia terdiri dari pribadi-pribadi yang ramah, namun tangguh melawan penjajahan, hingga mampu meraih kemerdekaan dengan tangan sendiri.

Di sisi lain, kebanggaan publik tidak melulu berdasar pada romantisme masa lalu. Sebagian publik juga merasa bangga karena realitas yang terjadi di masa kini. Kini, Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Amerika Serikat. Gejolak politik dan keamanan yang mencekam sudah jarang terjadi. Meski sistem demokrasi di Indonesia belum sempurna, publik tetap bangga terhadap kemajuan itu.

Sebagai manusia yang lahir di pangkuan ibu pertiwi, sudah seharusnya menjadi orang Indonesia. Itulah yang menjadi alasan sejumlah responden tetap bangga menjadi warga negara Indonesia, meskipun tak dapat memalingkan mata dari sejumlah realitas buruk yang masih terjadi di negeri ini.

Kendala

Adalah manusiawi jika adakalanya kecewa menghampiri sebagian publik dalam melakoni kehidupan berbangsa. Hampir separuh publik pernah merasa kecewa orang Indonesia. Hal tersebut terutama terjadi ketika mereka bersentuhan dengan tindak diskriminasi, konflik, dan kerusuhan. Kesetaraan dan solidaritas yang membingkai nasionalisme cenderung sirna karena perlakuan yang berbeda, kinerja pemerintah yang kurang maksimal, dan tingginya kasus korupsi di negeri ini.

Kecenderungan masyarakat untuk lebih mengejar kepentingan pribadi dibandingkan mengutamakan kepentingan bersama menjadi hambatan bagi kesetaraan dan solidaritas. Tidak dapat dimungkiri, pada dasarnya semua manusia akan berjuang demi dirinya sebelum memikirkan orang lain. Jika kehidupan diri sendiri sudah cukup terpenuhi, tentu akan lebih mudah untuk memperhatikan sesamanya. Sayangnya, di negeri ini perjuangan untuk meraih kemakmuran dan ketenteraman bagi diri sendiri saja masih sulit.

Namun, kendala itu tidak menghalangi tumbuhnya salah satu pondasi kehidupan berbangsa, yaitu kekuatan relasi antar-anggota masyarakat. Ikatan tersebut dibangun dari perasaan bahwa keberadaan setiap pribadi berarti dan dihargai. Hal itu tecermin dari pernyataan hampir 70 persen responden yang memiliki peran terhadap perkembangan bangsa Indonesia. Namun, publik menilai penghargaan terhadap kontribusi masyarakat belum tinggi. Sebanyak dua per lima responden merasa dirinya belum dianggap penting oleh pemerintah.

Dalam mengelola masyarakat, peran pemerintah amat krusial. Namun, kepercayaan publik terhadap pemerintah belum sepenuhnya tumbuh. Alih-alih menaruh keyakinan besar, sebagian publik masih menyangsikan kesungguhan pemerintah bekerja demi kepentingan bangsa. Menjadi catatan tersendiri bahwa pemerintah harus mampu meraih kepercayaan publik agar tak menjadi salah satu perintang tumbuhnya nasionalisme di hati masyarakat Indonesia.

Optimisme

Dalam situasi terancam, manusia akan cenderung bersatu untuk menghadapi musuh bersama. Meskipun bangsa Indonesia mengalami sejarah panjang penjajahan, nasionalisme bagi publik kini tak lagi bertumpu pada keinginan untuk melawan bangsa lain. Ketika membandingkan Indonesia dengan negara lain, keragaman jawaban publik terbilang merata. Kecenderungan untuk membenci bangsa lain ataupun mengagungkan negeri sendiri secara berlebihan, cenderung minim.

Meskipun demikian, sebagian besar publik memandang Indonesia belum sepenuhnya bebas dari dominasi asing. Upaya penegakan kedaulatan negara pada saat ini dinilai masih belum banyak berubah. Namun, dibandingkan pemerintahan sebelumnya, publik menilai pemerintahan sekarang menunjukkan usaha yang lebih baik dalam membenahi kedaulatan negara. Oleh karena itu, publik yakin Indonesia akan menjadi negara yang lebih baik dalam lima tahun ke depan.

Api optimisme terus menyala dalam benak publik bahwa Indonesia punya peran penting di dunia internasional. Publik sepakat, bangsa ini tidak pernah kekurangan potensi sumber daya alam dan manusia. Keyakinan atas potensi itu turut mengangkat optimisme publik akan citra Indonesia di mata internasional. Persoalan bangsa ini sedari dulu sesungguhnya tetap sama, yaitu bagaimana memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Nasionalisme di mata publik memiliki ciri introspektif, lebih cenderung memperhatikan ke dalam bangsa sendiri. Solidaritas dan ikatan antar-anggota masyarakat Indonesia menjadi kunci. Bagi publik, semangat kebangsaan seharusnya bertujuan untuk mencapai kehidupan yang makmur dan tenteram untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Pada akhirnya, apa yang merangkai sebuah bangsa bukanlah bentang alam, tidak sekadar ikatan darah, dan bukan melulu pengalaman sejarah yang sama. Bagi publik, kebersamaan di masa kini dan optimisme untuk masa depan adalah dua tali yang menyatukan bangsa Indonesia. Tantangan yang tersisa adalah bagaimana mengubah "susah senang ditanggung bersama" menjadi "bersama-sama untuk maju". Rasa bangga menjadi bagian dari Indonesia adalah pengikat nasionalisme demi meraih tujuan bersama bangsa.

Bingo sites http://gbetting.co.uk/bingo with sign up bonuses